Halo sahabat
matematika...
Selamat datang di
postingan kedua saya yang berkaitan dengan multimedia pembelajaran. Postingan
kali ini akan membahas kelanjutan dari postingan sebelumnya, jika kalian lupa
silahkan klik Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran agar pada postingan ini dapat lebih mudah
untuk memahaminya.
Oke, langsung saja pada inti tulisan ini yaitu:
PRINSIP-PRINSIP MULTIMEDIA
PEMBELAJARAN
Sejak sekolah dulu, guru sering bertanya kepada kita,
apa prinsip dari hidup kalian? Harus kita sadari, prinsip perlu kita
pegang agar kehidupan sesuai dengan keinginan yang kita raih. Artinya,
prinsip sangat penting dalam kehidupan. Nah, begitu juga dalam multimedia
pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prinsip adalah asas
(kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya).
Dalam dunia pendidikan, guru sering mengalami
masalah dalam mengajar, seperti menentukan cara yang efektif dan efisien untuk
menyampaikan materi pembelajaran, salah satu solusi untuk mengatasi masalah
tersebut adalah dengan membuat sebuah multimedia pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Sebelum membuat sebuah multimedia pembelajaran, hendaknya
seorang pengembang mengetahui prinsip-prinsip multimedia pembelajaran terlebih
dahulu.
Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis
berpendapat bahwa prinsip multimedia pembelajaran adalah suatu pegangan yang
menjadi dasar dalam membuat atau mengembangkan suatu media pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001)
menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda.
Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas belajar siswa yang
berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia? Menurut Mayer ada 12
prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip
Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
Prinsip Multimedia
Orang belajar lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata
saja. Karena dinamakan multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai
media (teks, gambar, grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll)
menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia
tapi single-media.
Prinsip Kesinambungan
Spasial
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan
berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh
karena itu, ketika ada gambar (or sodarenye nyang laen seperti video, animasi,
dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu
kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
Prinsip Kesinambungan
Waktu
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara
simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika
Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta
teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan
satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama
lain. Begitu kata Mayer.
Prinsip Koherensi
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi
yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering
terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu.
Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik
perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan
saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
Prinsip Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada
dari animasi plus teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus
narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal
ini, sangat mengganggu.
Prinsip Redudansi
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada
dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan). Sama dengan prinsip
di atas. Jangan redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi,
janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.
Prinsip Personalisasi
Orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif
(conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik
menggunakan kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis, oleh
karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang
sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya,
orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam
kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu,
multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan
penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif
(dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi,
branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif,
dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
Prinsip Sinyal (cue,
highlight, ..)
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight,
penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan
warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat
perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang
relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan
sesuatu.
Prinsip Perbedaan Individu
9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas
visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan
narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas
auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks,
visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas
kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Prinsip
Praktek
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan
masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam
tentang materi yang sedang dipelajari.
Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar
lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Berdasarkan
pemaparan-pemaparan tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan dan
belum penulis dapatkan jawabannya, yaitu:
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan
bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Di indonesia, banyak sekolah yang belum
memisahkan antara siswa yang memiliki kecerdasan spesial dan kecerdasan biasa
seperti siswa-siswa pada umumnya. Penulis belum menemukan prinsip yang tepat
untuk mengembangkan suatu multimedia pembelajaran pada kelas seperti masalah
tersebut. Menurut pembaca, prinsip multimedia pembelajaran mana yang tepat
dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan multimedia pembelajaran pada kelas
heterogen?
Selanjutnya,
bagaimana indikator yang menunjukkan bahwa multimedia yang telah kita
buat/kembangkan telah memenuhi prinsip-prinsip multimedia pembelajaran?
Jika sahabat
pembaca mengetahui solusi dari permasalahan tersebut, penulis sangat
mengharapkan jawaban dari sahabat pembaca di kolom komentar. Terimakasih karena
kalian telah mengunjungi postingan kali ini, semoga bermanfaat. 😉
Referensi:
https://hcfelany.wordpress.com/2014/05/20/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/ (Dikunjungi
pada 3 September 2018)
https://wirawax.wordpress.com/2014/08/14/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/ (Dikunjungi
pada 3 September 2018)
https://alphamedia-ind.com/2018/03/11/prinsip-multimedia-pembelajaran/ (Dikunjungi
pada 3 September 2018)
Menurut saya, prinsip yang tepat untuk mengembangkan multimedia pembelajaran pada kelas heteroven adalah prinsip perbedaan individual. Siswa merupakan sebuah kelompok belajar yang heterogen. Ini berarti bahwa siswa satu dengan siswa lain memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Faktor intelegensi, tingkat pendidikan, kepribadian, gaya belajar, serta faktor lain mempengaruhi bagaimana masing-masing siswa menerima pelajaran atau materi. Multimedia pembelajaran harus mampu menyelaraskan kemampuan masing-masing siswa agar mampu menerima inti materi pembelajaran.
BalasHapusIzin copas gan ^_^.
BalasHapusMenanggapi pertanyaan penulis dapat saya simpulkan.
1. Menurut saya disini kurang tepat jika saudara menanyakan prinsip multimedia mana yang tepat dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan multimedia pembelajaran terhadap siswa yang heterogen. Sebagai dasar untuk mengembangkan multimedia lebih baik kita perhatikan kembali landasan landasan multimedia pembelajaran.
2. Jika kita ujikan kepada siswa yg heterogen dan hasil uji cobanya memuaskan dan hanya sedikit siswa yang belum menguasainya.
Saya berharap jawaban saya bisa membantu kebingungan dari penulis.
Saya akan mencoba menanggapi masalah yang anda pertanyaakan. Untuk kelas hitorogen, prinsip-prinsip yang anda paparkan semuanya bisa di gunakan. Kembali ke penggunanya lagi untuk mengaplikasikan media berdasarkan prinsip yang anda paparkan. Saya pikir prinsip-prinsip ini bisa di kembangkan lagi sang pengguna media dan bisa digabungkan beberapa prinsip menjadi satu.
BalasHapusUntuk mengetahui indikator multimedia bisa di lihat dari ciri-ciri prinsip atau unsur-unsur prinsip terdapat pada multimedia.
BalasHapussaya akan mencoba menanggapi pertanyaan saudara yudi berdasarkan pemaparan dalam BLOG
BalasHapusjawaban pertama
kalo menurut saya sebagai pembaca prinsip multimedia yang cocok untuk kelas siswa heerogen ??? sebenarnya sudah terpapar pada blog di atas yaitu prinsip perbedaan individual, jadi kita harus menyesuaikan multimedia yang kita desain itu dengan siswa kebanyakan (kemampuan rata2 dalam kelas), seperti yang kita ketahui ada siswa yang mempunyai kemampuan
1. modalitas visual tinggi
2. modalitas auditori tinggi
3. modalitas kinestetik tinggi
untuk siswa yang memiliki modalitas visual tinggi(kecerdasan siswa belajar dengan penglihatan) maka menggunakan multi media yang didesain dengan prinsip no 1 sampai 9
untuk siswa yang memiliki modalitas auditori tinggi maka menggunakan multimedia yang cocok berupa Kombinasi teks dan narasi plus visual
untuk siswa yang memiliki modalitas kinestetik tinggi (kecerdasan dalam hal gerak tubuh) maka multi media yang digunkan berupa Kombinasi teks, visual dan simulasi
jawaban no 2
BalasHapussaya contohkan dengan prinsip koherensi
ketika kita mendesain multimedia kemudian terdapat kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak relevan dengan materi yang hendak kita ajarkan lalu kita tidak menggunakan dalam multimedia pembelajaran kita. Maka multimedia yang kita desain ini ialah multi media yg sudah memenuhi prinsip koherensi
Berdasarkan pertanyaan kedua dari penulis, menurut saya indikator yang menunjukkan bahwa multimedia yang telah kita buat/kembangkan telah memenuhi prinsip-prinsip multimedia pembelajaran yaitu bisa kita lihat dari multimedia yang kita desain apakah sudah menerapkan ke 12 prinsip tersebut. misalnya:
BalasHapuskita menggunakan macromedia flash untuk membuat materi pembelajaran. dimana dengan menggunakan macromedia flash kita bisa mencantumkan teks,gambar,animasi sederhana,video, audio ataupun efek2 khusus lainnya.
misalnya kita membuat materi pembelajaran tentang bangun ruang dengan menggunakan macromedia flash.
-pada saat membuat materi tersebut kita mencantumkan kata-kata (defenisi bangun ruang), bukan hanya berupa kata-kata saja tetapi kita juga melampirkan contoh bangun ruang dalam bentuk gambar. dari sini dapat kita lihat bahwa kita telah menggunakan prinsip multimedia.
-pada saat membuat materi tersebut kita juga menyajikan kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan ini telah menunjukkan bahwa kita telah menggunakan prinsip keterdekatan ruang
-pada saat membuat materi tersebut kita juga menyajikan kata-kata,gambar, suara, video, animasi yang dianggap perlu saja, yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan, ini telah menunjukkan bahwa kita telah menggunakan prinsip koherensi
Menanggapi pertanyaan pertama,
BalasHapusmenurut saya Prinsip yang tepat untuk digunakan untuk mengembangkan multimedia pembelajaran pada kelas yang heterogen adalah prinsip Perbedaan Individu, karena pada prinsip Perbedaan Individu Kombinasi teks dan narasi plus visual yang digunakan berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Menurut saya, sebagai indikator apakah multimedia itu berhasil memenuhi prinsip-prinsipnya adalah ketika seberapa banyak siswa berhasil menerima materi pembelajaran. Karena prinsip-prinsip itu ada sebagai tujuan mempermudah siswa memahami materi melalui multimedia pembelajaran.
BalasHapus