Selasa, 19 Maret 2019

REFLEKSI MATERI KEEMPAT : PENILAIAN PSIKOMOTOR

NAMA     :  MASYUDIN NUR
NIM         :  P2A918029

REFLEKSI MATERI KEEMPAT : PENILAIAN PSIKOMOTOR

Apa yang telah saya pahami?
Yang telah saya pahami mengenai Penilaian Psikomotor dalam pembelajaran matematika adalah
salah satu penilaian untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menerapkan teori matematika sebagai faktor yang relevan dalam memahami konsep matematika. Kemudian, penilaian psikomotor dalam pembelajaran matematika tidak dapat dengan mudah dilakukan untuk semua materi pembelajaran matematika, seperti integral, limit, atau yang lainnya.

Apa yang belum saya pahami?
Mengenai Penilain Psikomotor ini, ada beberapa hal yang belum saya pahami, diantaranya:
a.  Jika tidak semua materi pada pembelajaran matematika bisa diadakan penilaian psikomotor, apakah penilaian psikomotor ini tidak wajib untuk dilakukan khususnya pada pembelajaran matematika?
b. Sekarang adalah zaman revolusi 4.0, dimana penggunaan teknologi sangat penting saat ini. Beberapa sekolah khususnya di kota jambi, telah melakukan inovasi penilaian pembelajaran dengan menggunakan android. Bagaimana dengan penilaian psikomotor, apakah juga bisa diadakan berbasis teknologi?
c.  Apakah penilaian psikomotor  menunjukkan bahwa peserta didik telah benar-benar paham dengan konsep materi yang telah diajarkan?

Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham
Berdasarkan beberapa hal yang belum dipahami seperti yang dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham adalah sebagai berikut:
a.   Mencari sumber lain, dalam hal ini adalah melalui internet.
b. Berdiskusi dengan guru yang mengajar matematika, salah seorang guru berinisial BJ yang mengajar di salah satu sekolah swasta di kota jambi, dan RS yang juga seorang guru matematika. Kemudian saya berdiskusi dengan teman saya HU, MR, dan RA untuk mendengarkan pendapat mereka mengenai hal-hal yang belum dapat saya pahami.

Apa saja yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman?
Ada beberapa hal yang saya dapatkan setelah berdiskusi dengan teman, diantaranya:
a.  BJ, beliau adalah guru matematika yang mengajar di salah satu SMA di kota jambi, berdasarkan diskusi dengan beliau, yang saya dapatkan adalah memang benar bahwa tidak wajib penilaian psikomotor diadakan untuk semua materi pembelajaran matematika, hal ini juga sesuai dengan penilaian pada kurikulum 2013 yang menekankan pada penilaian kognitif dan afektif pada peserta didik.
b.  RS, beliau juga guru matematika yang mengajar di salah satu SMAdi kota jambi, namun berbeda sekolah dengan BJ. Permasalahan pertama dia sependapat dengan BJ, sedangkan untuk permasalahan kedua, dia mengatakan bahwa di sekolahnya juga sudah menggunakan Android sebagai sistem penilaian, namun untuk penilaian psikomotor memang belum ada dalam aplikasi tersebut karena pemerintah pada kurikulum 2013 lebih memfokuskan pada penilaian kognitif dan afektif peserta didik. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa penilaian psikomotor tidak dapat menggunakan teknologi.
c. HU, dia berpendapat bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. Jadi, jika siswa tersebut telah mencakup dalam penilaian psikomotorik menurut Leighbody, berarti siswa tersebut telah menunjukkan pemahamannya dalam materi matematika.
d. MR, dia berpendapat bahwa siswa yang hanya mendengar guru menjelaskan materi/konsep matematika belum tentu ia memahami konsep tersebut. Siswa yang mendengar dan melihat juga belum tentu bisa memahami konsep tersebut, tetapi mungkin lebih baik daripada siswa yang hanya mendengar saja. lalu siswa yang mendengar, melihat, dan mempraktikkan tentu lebih memahami konsep yang ia pelajari, dikarenakan ia menggunakan lebih banyak indera nya untuk belajar. kegiatan praktek / keterampilan ini merupakan kegiatan pada ranah psikomotor, jadi bisa disimpulkan bahwa hasil penilaian psikomotor dapat menunjukkan bahwa siswa itu memahami konsep yang ia pelajari. sekurang-kurangnya ia lebih memahami dari pada yang tidak mempraktikkan sama sekali. untuk level pemahaman yang lebih tinggi lagi yaitu siswa yang mendengar, melihat, mempraktikkan dan mengajarkan kepada teman-temannya mengenai konsep yang ia pelajari 
e. RA, dia berpendapat bahwa Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif. Jadi dapat disimpulkan apabila siswa telah menguasai aspek psikomotor maka siswa telah menguasai aspek kognitif dan aspek efektif juga. Maka dari itu bisa disebut apabila siswa telah menguasi aspek psikomotor maka siswa tersebut telah menunjukkan pemahamannya dalam materi matematika.

Apa yang saya berikan kepada teman saya?
Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa guru yang saya temui, ada beberapa hal yang dapat saya berikan:
a.  Berdasarkan sumber yang saya peroleh, memang benar bahwa pemerintah saat ini lebih banyak memfokuskan penilaian pada penilai kognitif dan afektif peserta didik. Tetapi, penilaian psikomotor tetap perlu diadakan karena dengan penilaian psikomotor, peserta didik bisa menerapkan ilmu yang didapatkan secara teori dalam kegunaanya untuk kehidupan sehari-hari.
b. Penilaian psikomotor juga dapat dilakukan berbasis teknologi, yaitu saat peserta didik mempraktikkan teori dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa merekam semua kegiatan yang berlangsung dalam bentuk video, kemudian mereka dapat menguploadnya di youtube agar dapat berguna bagi peserta didik lain yang ada di indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar