NIM : P2A918029
REFLEKSI MATERI KEEMPAT : PENILAIAN PSIKOMOTOR
Apa yang telah saya pahami?
Yang telah saya pahami mengenai Penilaian Psikomotor dalam pembelajaran matematika adalah
salah satu penilaian untuk mengetahui keterampilan siswa
dalam menerapkan teori matematika sebagai faktor yang relevan dalam memahami
konsep matematika. Kemudian, penilaian psikomotor dalam pembelajaran matematika
tidak dapat dengan mudah dilakukan untuk semua materi pembelajaran matematika,
seperti integral, limit, atau yang lainnya.
Apa yang belum saya
pahami?
Mengenai Penilain Psikomotor ini, ada beberapa
hal yang belum saya pahami, diantaranya:
a. Jika
tidak semua materi pada pembelajaran matematika bisa diadakan penilaian
psikomotor, apakah penilaian psikomotor ini tidak wajib untuk dilakukan
khususnya pada pembelajaran matematika?
b. Sekarang
adalah zaman revolusi 4.0, dimana penggunaan teknologi sangat penting saat ini.
Beberapa sekolah khususnya di kota jambi, telah melakukan inovasi penilaian
pembelajaran dengan menggunakan android. Bagaimana dengan penilaian psikomotor,
apakah juga bisa diadakan berbasis teknologi?
c. Apakah penilaian
psikomotor menunjukkan bahwa peserta
didik telah benar-benar paham dengan konsep materi yang telah diajarkan?
Upaya-upaya yang
dilakukan agar segera paham
Berdasarkan
beberapa hal yang belum dipahami seperti yang dipaparkan pada pembahasan
sebelumnya, upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham adalah sebagai
berikut:
a. Mencari
sumber lain, dalam hal ini adalah melalui internet.
b. Berdiskusi
dengan guru yang mengajar matematika, salah seorang guru berinisial BJ yang
mengajar di salah satu sekolah swasta di kota jambi, dan RS yang juga seorang
guru matematika. Kemudian saya berdiskusi dengan teman saya HU, MR, dan RA
untuk mendengarkan pendapat mereka mengenai hal-hal yang belum dapat saya
pahami.
Apa saja yang saya
dapatkan dari diskusi dengan teman?
Ada beberapa
hal yang saya dapatkan setelah berdiskusi dengan teman, diantaranya:
a. BJ,
beliau adalah guru matematika yang mengajar di salah satu SMA di kota jambi,
berdasarkan diskusi dengan beliau, yang saya dapatkan adalah memang benar bahwa
tidak wajib penilaian psikomotor diadakan untuk semua materi pembelajaran
matematika, hal ini juga sesuai dengan penilaian pada kurikulum 2013 yang
menekankan pada penilaian kognitif dan afektif pada peserta didik.
b. RS,
beliau juga guru matematika yang mengajar di salah satu SMAdi kota jambi, namun
berbeda sekolah dengan BJ. Permasalahan pertama dia sependapat dengan BJ,
sedangkan untuk permasalahan kedua, dia mengatakan bahwa di sekolahnya juga
sudah menggunakan Android sebagai sistem penilaian, namun untuk penilaian
psikomotor memang belum ada dalam aplikasi tersebut karena pemerintah pada
kurikulum 2013 lebih memfokuskan pada penilaian kognitif dan afektif peserta
didik. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa penilaian psikomotor tidak dapat
menggunakan teknologi.
c. HU, dia berpendapat bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat
dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan
praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. Jadi, jika siswa tersebut telah mencakup dalam penilaian
psikomotorik menurut Leighbody, berarti siswa tersebut telah menunjukkan
pemahamannya dalam materi matematika.
d. MR, dia berpendapat bahwa siswa yang hanya mendengar guru menjelaskan
materi/konsep matematika belum tentu ia memahami konsep tersebut. Siswa yang
mendengar dan melihat juga belum tentu bisa memahami konsep tersebut, tetapi
mungkin lebih baik daripada siswa yang hanya mendengar saja. lalu siswa yang
mendengar, melihat, dan mempraktikkan tentu lebih memahami konsep yang ia
pelajari, dikarenakan ia menggunakan lebih banyak indera nya untuk belajar.
kegiatan praktek / keterampilan ini merupakan kegiatan pada ranah psikomotor,
jadi bisa disimpulkan bahwa hasil penilaian psikomotor dapat menunjukkan bahwa
siswa itu memahami konsep yang ia pelajari. sekurang-kurangnya ia lebih
memahami dari pada yang tidak mempraktikkan sama sekali. untuk level pemahaman
yang lebih tinggi lagi yaitu siswa yang mendengar, melihat, mempraktikkan dan
mengajarkan kepada teman-temannya mengenai konsep yang ia pelajari
e. RA, dia berpendapat bahwa Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya
merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil
belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan
berperilaku). Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi
hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau
perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan
ranah afektif. Jadi dapat disimpulkan apabila siswa telah menguasai aspek
psikomotor maka siswa telah menguasai aspek kognitif dan aspek efektif juga.
Maka dari itu bisa disebut apabila siswa telah menguasi aspek psikomotor maka
siswa tersebut telah menunjukkan pemahamannya dalam materi matematika.
Apa yang saya berikan
kepada teman saya?
Berdasarkan
diskusi saya dengan beberapa guru yang saya temui, ada beberapa hal yang dapat
saya berikan:
a. Berdasarkan
sumber yang saya peroleh, memang benar bahwa pemerintah saat ini lebih banyak
memfokuskan penilaian pada penilai kognitif dan afektif peserta didik. Tetapi,
penilaian psikomotor tetap perlu diadakan karena dengan penilaian psikomotor,
peserta didik bisa menerapkan ilmu yang didapatkan secara teori dalam
kegunaanya untuk kehidupan sehari-hari.
b. Penilaian
psikomotor juga dapat dilakukan berbasis teknologi, yaitu saat peserta didik
mempraktikkan teori dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa merekam semua
kegiatan yang berlangsung dalam bentuk video, kemudian mereka dapat menguploadnya
di youtube agar dapat berguna bagi
peserta didik lain yang ada di indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar